Total Tayangan Laman

Jumat, 03 April 2009

GAYA HIDUP MODERN

Jaman modern sekarang ini ditandai dengan berbagai macam perubahan cepat yang terjadi di beberapa bidang dalam kehidupan masyrakat. Pada satu sisi, perubahan-perubahan yang terjadi menimbulkan kemajuan dan pertumbuhan hidup dan kehidupan manusia. Tetapi pada sisi yang lain, proses dan hasil perubahan tersebut menimbulkan banyak masalah yang berdampak pada hidup dan kehidupan manusia.
Jaman modern ditandai dengan munculnya beberapa gaya hidup modern, yang pada sisi tertentu menimbulkan persoalan jika dipandang dari sisi nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya termasuk dari sisi nilai-nilai agama. Ada banyak orang merasa tidak sanggup menjawab setiap persoalan yang muncul sebagai akibat adanya gaya hidup modern, karena mereka merasa tidak memiliki “pegangan nilai” lagi. Seolah-olah, nilai-nilai yang pernah ada sebelumnya dan yang sedang ada sekarang ini tidak sanggup menjawab semua masalah yang muncul. Manusia merasa bingung, merasa tidak berdaya menghadapi perkembangan dan kemajuan jaman modern. Salah satu hal yang menggelisahkan adalah persoalan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, dalam menghadapi jaman modern sangat perlu untuk merumuskan kembali nilai-nilai moral yang dinamis.
Merumuskan nilai moral berkaitan dengan kemauan manusia untuk memberi sikap terhadap situasi yang ada di sekitarnya berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai berdasarkan mutu hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya. Penilaian moral juga berkaitan dengan gaya hidup modern yang mana hendak diberi sikap.


A. MEMBANGUN NILAI-NILAI MORAL

Moral dan moralitas berkaitan dengan keutuhan segi batiniah dan segi lahiriah. Bahwa yang lahiriah adalah perwujudan dari yang batiniah, yang batiniah mendasari segi yang lahiriah, yang lahiriah menjelaskan yang batiniah, dan yang batiniah terwujud dalam yang lahiriah. orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin, sikap yang baik, dan melakukan hal-hal yang baik sebagaimana sikap batinnya, dan sikap hatinya.
Mengukur dan menilai moral memang bukan hal yang mudah, tetapi secara umum orang mempertimbangkan moral dari apa yang ada di dalam hati manusia dan ukuran yang dipakai orang untuk mengukur kita. Berkaitan dengan ini, maka kita seringkali terdengar iastilah hati nurani dan norma. Hati nurani menunjuk kepada apa yang benar, apa yang baik menurut segi batiniah manusia (dirinya sendiri) sebagai pribadi, sedangkan norma menunjukkan kepada apa yang benar, apa yang baik menurut semua orang (sisi lahiriah manusia dalam kaitan dengan orang lain). Norma diberikan kepada seseorang supaya ia dapat memahami hal-hal yang baik (kebaikan) supaya ia dapat hidup sesuai dengan norma-norma itu, sedangkan hati nurani menolong seseorang, mendorong seseorang untuk lebih serius, lebih bersemangat mengejar kebaikan (hal-hal yang baik) secara normatif (berdasarkan norma), sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam hati nurani.
Norma biasanya diajarkan melalui orang tua, guru-guru, tetangga, sahabat, kenalan, majalah, koran, tabloid, televisi, radio, dan sebagainya. Norma selalu dipakai seseorang sebagai pertimbangan dalam menentukan tindakannya, tetapi hati nurani yang memutuskannya, mana tindakan yang perlu dilakukan. Hati nurani kadang kala tidak mampu memberi pertimbangan yang baik, kadang memberi pertimbangan yang keliru, memberi pertimbangan yang tidak tegas, tidak jelas, bahkan bisa salah. Oleh sebab itu, memahami dan mengerti norma dengan baik merupakan hal yang tidak boleh diabaikan. Norma pun kadang kala juga bisa tidak tepat atau keliru. Oleh sebab itu, hati nurani memiliki peran untuk mempertimbangkannya. Norma berlaku seperti rambu-rambu lalu lintas, yang memberi petunjuk kepada seseorang untuk melakukan perjalanan menuju kebaikan, kemudian hati nurani yang memutuskan untuk mengikuti petunjuk jalan itu atau tidak. Hati nurani berhak untuk mengikuti atau tidak mengikuti petunjuk-petunjuk itu, jika norma-norma yang ada bertentangan dengan keyakinan hati nurani kita. Hati nurani harus terus menerus menjadi dewasa, sehingga kita semakin mampu menyelidiki norma-norma yang diajarkan atau ditawarkan oleh lingkungan sekitar ita.

Macam-macam norma yang pernah diajarkan kepada kita :
1. Norma-norma yang diajarkan oleh orang tua
misalnya: memakai pakaian yang sesuai, mengucapkan terima kasih,
menggunakan tangan kanan jika menerima sesuatu, dan sebagainya
2. Norma-norma yang diajarkan oleh masyarakat
misalnya : sopan santun pergaulan, bagaimana bergaul dengan masyarakat, pergaulan muda-mudi yang baik, bagaimana menghargai pemimpin masyarakat, bagaimana menghargai tata cara yang berbeda di dalam masyarakat, dan sebainya
3. Norma-norma yang diajarkan oleh sekolah
misalnya : disiplin menggunakan waktu, bagaimana bertanggungjawab atas setiap tugas yang diberikan kepada kita, bagaimana bekerjasama dengan orang lain, bagaimana kita jujur terhadap segala sesuatu, bagaimana kita tekun dalam belajar dan menjalankan tugas, dan sebaginya
4. Norma-norma yang diajarkan oleh pemerintah
misalnya : membayar pajak, membela bangsa dan negara dari ancaman musuh, menjaga lingkungan, dan sebagainya
5. Norma-norma yang diajarkan oleh media massa
misalnya : bagaimana hubungan muda-mudi yang baik, norma seksual, norma etika, dan sebagainya. Harus disadari, apa yang diajarkan oleh media massa kadang kala menimbulkan berbagai konflik kepentingan, konflik norma-norma baru yang berbeda dengan norma-norma yang ada sebelumnya

B. MEMBANGUN HATI NURANI

Hati nurani merupakan pusat kehidupan manusia, pusat kepribadian
manusia. Di dalam hati nurani, manusia memiliki nilai-nilai hidup yang dapat menata dan mengarahkan hidupnya. Oleh sebab itu, hati nurani manusia seharusnya diisi keutamaan yang berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran TUHAN dimana bergantung sekali pada iman kita dan usaha kita untuk membangun hubungan kehidupan kepada-Nya. Membangun kehidupan yang terpanggil untuk memelihara dan menjalankan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari

C. GAYA HIDUP MODERN

Manusia modern mengalami banyak perubahan dalam pola hidupnya, khususnya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai hidup. Ada pandangan hidup yang sekarang ini (di jaman modern) dianut oleh manusia, yaitu segala sesuatu yang dianggap berguna, menyenangkan, dan dianggap baik, dianggap sah-sah saja. ”Cara dapat dibenarkan oleh tujuan dan kegunaannya”.
Tujuan menghalalkan segala cara !
Kedurhakaan selalu diikuti dengan kemerosotan moral, misalnya : pergaulan bebas, pornografi, free sex, perceraian, homoseksual, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu akan mengancam hidup manusia di jaman modern ini. Beberapa gaya hidup modern yang perlu kita pelajari :
1. New Morality
Jaman modern diwarnai dengan revolusi moral (New Morality) yang sangat besar, yang mengarah kepada krisis moral. Paa yang dianggap dahulu tabu dan tidak boleh, sekarang menjadi hal yang bisa dan diperbolehkan. Misalnya : hubungan sex sebelum nikah adalah hal yang ”biasa-biasa saja”, hubungan seks sebelum menikah adalah bukti cinta kasih pada pasangan. Orang-orang muda merasa ”belum normal” jika belum memiliki pengalaman seksual dengan lawan jenisnya. Hidup bersama sebelum menikah (kumpul kebo) menjadi ”identitas modern” anak-anak muda yang hidup di kota-kota besar. jika tidak mengikutinya, dianggap ketinggalan jaman.
Dasar Revolusi Moral
Tujuan revolusi moral adalah membebaskan manusia dari belenggu atau ikatan yang sifatnya tradisional, kuno. Segala hal dan segala macam peran manusia harus dibebaskan dari hal-hal yang tradisional. Misalnya, seksualitas harus dibebaskan dari hal-hal tradisional yang mengikat dan menghambatnya. Tujuan utama seksualitas adalah memberi kepuasan kepada manusia, dalam bentuk apa pun dan dimana pun, kapan pun dan pada waktu apa pun. Segala hal atau segala sesuatu yang menghambat pemuasan seksual dianggap jahat.
Nafsu seks dilihat dan diperhitungkan sebagai suatu daya yang otonom yang sangat mempengaruhi manusia. Sama seperti nafsu-nafsu yang lain : kalau haus harus minum, kalau lapar harus makan, kalau mengantuk harus tidur, maka ketika nafsu seks timbul, manusia harus menyalurkan nafsu seks tersebut. Nafsu seks harus disalurkan, untuk memberi kepuasan kepada manusia. Sebab jika tidak, maka manusia akan mengalami gangguan kesehatan mental dan emosi. Kepuasan seksual harus dialami manusia sesering mungkin. Oleh sebab itu, revolusi moral sangat menganjurkan adanya pergaulan bebas yang disertai dengan seks bebas.

2. Seks di luar Nikah
Hubungan seks sebelum nikah, selalu terjadi dengan berbagai macam alasan, yang sebenarnya tidak masuk akal.
a. Keperawanan (menjaga kesucian hidup sebelum pernikahan) adalah
hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Bila seorang wanita
melakukan hubungan seks sebelum menikah, ia tidak dapat
terlindung dari tuduhan-tuduhan yang mengakibatkan adanya
hukuman. Seks sebelum nikah selalu berakibat adanya hukuman.
Seks sebelum nikah bukanlah hanya sekedar persoalan kuno atau
modern, tetapi kebenaran hidup yang harus dijaga dan dijalankan
dalam kehidupan.
b. Hubungan seks sebelum nikah, yang disamakan dengan percabulan,
adalah merupakan tindakan/perbuatan dosa.
c. Tidur bersama tanpa dilandasi hubungan pernikahan adalah tindakan
dosa perzinahan, yang akan dihukum oleh TUHAN
d. Percabulan ; pergaulan seks yang bebas, di mana seseorang selalu
didorong oleh nafsunya untuk mencari pengalaman seks ; merupakan
sikap hati yang najis, yang dibenci dan akan dihukum
e. Seks dan Seksualitas adalah anugerah yang perlu dihayati.
Hubungan kelamin sebelum menikah mempersempit kemungkinan
berkembangnya hubungan pernikahan yang ideal. Menimbulkan rasa
saling curiga antar pasangan suami-istri

3. Aborsi
Aborsi (menggugurkan kandungan, janin, yang dilakukan dengan sengaja) menjadi persoalan jaman modern yang sangat gawat. Aborsi lebih berbahaya dibandingkan dengan melahirkan secara normal. Aborsi menyebabkan seorang wanita (ibu) mengalami komplikasi fisik dan menanggung beban perasaan bersalah.
Aborsi biasanya dilakukan dengan beberapa alasan :
a. Alasan vital. Aborsi dilakukan demi menyelamatkan sang ibu, jika
kehamilan dan persalinan mengancam nyawa sang ibu (karena
penyakit, gangguan jiwa)
b. Alasan Janin. Aborsi dilakukan karena janin dalam keadaan
tidak memungkinkan untuk dilahirkan, janin ada kemungkinan tidak
dapat menjalankan kehidupannya secara normal, janin mengalami
cacat tetap
c. Alasan kriminal. Aborsi dilakukan karena alasan kehamilan terjadi
akibat perkosaan, akibat pemaksaan kehendak
d. Alasan sosial. Aborsi dilakukan demi kesejahteraan ibu, anak,
karena keadaan ekonomi, keadaan keluarga yang tidak
memungkinkan hadirnya seorang anak
Kita harus tegas untuk mengatakan bahwa aborsi merupakan pembunuhan dosa berat yang menuntut hukuman. Pembunuhan secara bebas orang yang tidak bersalah adalah kekejian.

4. Egoisme
Egoisme merupakan bentuk dari kata Latin, ego yang berarti ”aku” atau ”saya”. Egoisme adalah ajaran yang berhubungan dengan ego (aku,saya) dan ada yang bersifat positif (sehat) dan negatif (tidak sehat).
Egoisme positif (sehat) adalah pandangan dan sikap hidup yang melihat pemenuhan kebutuhan sendiri dan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai hal yang sangat diperlukan bagi perkembangan pribadi yang wajar dan dewasa. Misalnya, bahwa saya (manusia) perlu penghargaan dan dihargai oleh orang lain.
Sedangkan egoisme negatif (tidak sehat) adalah pandangan dan sikap hidup yang mendewakan pemenuhan kebutuhan diri sendiri dan penghargaan diri sendiri sebagai satu-satunya tujuan hidup. Dalam realitas kehidupan, pemahaman egoisme negatif (tidak sehat) seringkali mewarnai kehidupan manusia. Egoisme adalah sikap dan perilaku yang mendasar pada cinta diri sendiri, moralitas yang mendasarkan kepentingan pada diri sendiri, mencari keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, bahkan cenderung meniadakan kepentingan orang lain.
Egoisme tidak hanya terbatas pada kepentingan pribadi atau perorangan, tetapi juga menghinggapi kepentingan kelompok berdasarkan keluarga, suku, ras, golongan, agama menjadi prioritas tujuan hidup, tanpa memperhatikan kerugian yang dialami oleh kelompok lain.
Karena berpusat pada kepentinagn diri sendiri, kelompok sendiri, egoisme mebawa akibat negatif bagi orang ataupun kelompok lain. Egoisme menggiring manusia atau kelompok pada cara pandang yang sempit. Manusia menjadi makhluk serakah. Egoisme menjadikan orang lain sebagai objek pemenuhan kepuasan pribadi. Egoisme membuat pengikutnya kehilangan penghargaan terhadap orang lain. Egoisme memandang orang lain dari segi ”berhasil guna” atau ”berdaya guna” atau tidak. Egoisme mengganggu kerukunan, persatuan dan kesatuan hidup antar manusia.

5. Relativisme
Relativisme berpandangan, bahwa apa yang benar atau salah, baik atau jahat, tergantung pada orang masing-masing, masyarakat masing-masing, atau budaya masing-masing. Relativisme berpandangan, bahwa moralitas berhubungan dan ditentukan oleh masing-masing orang, masing-masing budaya, tiap-tiap kelompok masyarakat setempat tidak boleh dipakai sebagai ukuran bagi masyarakat lainnya. Segala sesuatu yang ada menjadi relatif.

6. Hedonisme
Hedonisme berpendirian, bahwa kenikmatan (kenikmatan pribadi, diri sendiri) merupakan nilai hidup tertinggi dan dianggap sebagai tujuan utama dan terakhir dari kehidupan. Dalam kenyataan sehari-hari, kenikmatan bisa memiliki dimensi yang berbeda-beda. Kenikmatan menjadi perkara dan hal-hal yang subjektif. Kenikmatan menjadi hal yang sangat relatif bagi setiap orang

7. Individualisme
Individualisme menekankan peran dan kepentingan perorangan atau pribadi. Individualisme berasal dari kata Latin individuus (individualis, kata sifat), yang berarti perorangan, pribadi, bersifat perorangan, bersifat pribadi. Individualisme berpandangan, bahwa pribadi, perorangan memiliki kedudukan utama dan kepentingan pribadi, kepentingan perorangan merupakan urusan yang paling tinggi. Kebebasan dan kepentingan pribadi menjadi dasar dan norma hidup yang paling tinggi.
Individualisme menjebak orang untuk memiliki cara hidup yang ”semau gue” yang mendewakan kepentingan pribadi dan mengabaikan kepentinagn bersama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar